Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

Senin, 20 Februari 2012

Peta dunia preman Indonesia !


The Real Indonesian Godfather atau istilah yang sedang hangat - hangatnya adalah Preman, memang ada sejarahnya. Awal mula mereka ada khususnya di Jakarta memang menjadi cerita tersendiri. Tentu tidak mudah mendirikan atau memberi jabatan kepada diri sendiri untuk menjadi penguasa jalanan di Ibu Kota. Tetapi, itulah yang terjadi sekarang ini.


Cerita tentang dunia preman kembali menyeruak setelah John Kei tertangkap aparat Polisi di Jakarta pada sebuah hotel. Memang, penguasa bisnis jagoan di Ibu Kota bukanlah suksesi yang mulus. Pada 1990 - an, area ini dikuasai Hercules. Ia semula pemuda Timor yang direkrut Komando Pasukan Khusus, atau Kopassus, pada saat proses integrasi wilayah itu ke Indonesia. Terluka dalam kecelakaan helikopter, ia dibawa Gatot Purwanto, perwira pasukan yang dipecat dengan pangkat kolonel setelah insiden Santa Cruz, ke Jakarta.

Hercules
Hercules menetap di Jakarta, dan segera merajai dunia para jagoan. Ia menguasai Tanah Abang. Namanya pun selalu dekat dengan kekerasan. Kekuasaan tak abadi. Pada 1996, ia tak mampu mempertahankan kekuasaannya di pasar terbesar se - Asia Tenggara itu. Kelompoknya dikalahkan dalam pertikaian dengan kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu Kambing, kini 64 tahun.

Sejak itu ia tak lagi berkuasa. Tapi namanya telanjur menjadi ikon. Seorang perwira polisi mengatakan, setiap pergantian kepala kepolisian, Hercules selalu dijadikan "sasaran utama pemberantasan preman".

Pada masa kejayaan Hercules, ada Yorrys Raweyai. Pada awal 1980 - an, ia bekerja menjadi penagih utang. Kekuatan pemuda asal Papua ini ditopang Pemuda Pancasila, organisasi yang mayoritas anggotanya anak - anak tentara. Dia menjadi ketua umum organisasi itu pada 2000 dan melompatkan kariernya di politik. Dia kini anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Golkar.

Yorrys Raweyai
Pemuda Pancasila juga menjual jasa pengamanan lahan, penagihan, dan penjaga keamanan. Ordernya diterima dari perusahaan resmi yang memiliki jaringan dengan Pemuda Pancasila. "Habis, mau kerja apa, mereka tidak punya ijazah," Yorrys menunjuk anggota kelompoknya. Soal cap preman, dia berkomentar enteng, "Saya anggap koreksi saja."

Pada generasi yang sama, Lulung, bekas preman Tanah Abang, kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta dari Partai Persatuan Pembangunan. Usahanya dimulai dari pengumpul sampah kardus bekas hingga barang bekas. "Karier"-nya mencorong ketika kemudian bermain dalam usaha pengamanan Tanah Abang.

H. Lulung
Untuk melestarikan kekuatan, Lulung memilih jalur resmi. Ia mendirikan PT Putraja Perkasa, lalu PT Tujuh Fajar Gemilang, dan PT Satu Komando Nusantara. Perusahaan ini disesuaikan dengan "kompetensi inti" Lulung: jasa keamanan, perparkiran, penagihan utang. "Kami masuk lewat tender resmi," ujarnya.

Pada 1996, ketika Hercules berhadapan dengan Bang Ucu, Lulung memilih "berkolaborasi" dengan kelompok Timor. Alhasil, ia dikejar - kejar teman - temannya di Betawi. Bang Ucu menyelamatkannya. Itu sebabnya, kini Lulung rajin menyetor dana ke Ucu.

Dari Nusa Tenggara Timur ada nama Zakaria "Sabon" Kleden. Mendarat di Betawi pada 1961, Zaka, begitu dia disapa, mengatakan menjadi preman pertama asal daerahnya. "Dulu istilahnya geng. Ada geng Berland, Santana, dan Legos," tuturnya.

Riwayat Zaka tak kalah berdarah. Ia mengaku sempat memutilasi korbannya. Ia juga mengatakan telah menembak mati beberapa orang. "Saya membela harga diri saya," ujarnya. Tapi ia mengatakan tak pernah dinyatakan bersalah. "Saya sering ditahan, tapi tidak pernah dihukum penjara," kata pria yang sangat dihormati kelompok preman terutama dari daerah Nusa Tenggara Timur itu. Tiga tahun lalu, Zaka menjalankan bisnis sekuriti, PT Sagas Putra Bangsa.

Dari eranya, Zaka menyebutkan nama ketua geng seperti Chris Berland, Ongky Pieter, Patrick Mustamu dari Ambon, Matt Sanger dari Manado, Jonni Sembiring dari Sumatera, Pak Ukar dan Rozali dari Banten, Effendi Talo dari Makassar. "Komunikasi di antara kami baik, maka jarang bentrok berdarah," tuturnya.

Basri Sangaji
Pada awal 2000, muncul Basri Sangaji. Tapi dia terbunuh dalam penyerangan berdarah di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. "Bisnis"-nya diteruskan anggota keluarga Sangaji: Jamal dan Ongen. Ongen kini mantap dengan karier politiknya, menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Hanura Jakarta. "Target saya ketua Dewan Pimpinan Pusat," ujarnya.

Menjelang 1980 - an kelompok - kelompok preman etnis juga membentuk organisasi massa. Dimulai dari Prems, kependekan dari Preman Sadar pimpinan Edo Mempor. Tetap saja, bisnis mereka penagihan, perpakiran, dan jaga tanah sengketa. "Ini awal mulanya preman berbalut ormas," kata seorang mantan serdadu yang kini jadi preman.

Kelompok itu berdiri hingga kini. Ada Angkatan Muda Kei, Kembang Latar, Petir, Forum Betawi Rempug, Forum Komunikasi Anak Betawi ( Forkabi ), Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten, juga Angkatan Muda Kei.

Setelah bentrok berdarah di Ampera, nama Thalib Makarim muncul ke permukaan. Para pesaingnya menyebut dia menyediakan pengamanan klub hiburan malam, seperti Blowfish, DragonFly, X2, dan Vertigo. Thalib resminya seorang pengacara. Dia pernah mendampingi artis kakak - adik Zaskia Adya Mecca dan Tasya Nur Medina, yang diculik oleh Novan Andre Paul Neloe. Ia juga menjadi anggota tim pengacara pengusaha Tomy Winata, ketika menggugat majalah Tempo pada 2005.

Thalib tercatat bekerja untuk kantor pengacara Victor B. Laiskodat & Associates di Melawai, Jakarta Selatan. Tapi, ketika Tempo mendatangi kantor ini, ia tak lagi bekerja di sana. "Lima tahun lalu sudah keluar," kata Mie Gebu, staf kantor ini. Beberapa orang yang berjanji bisa menghubungkan dia dengan Tempo juga gagal menemukannya. Ia juga tak pernah memenuhi panggilan polisi, yang menangani kasus Ampera.

Sumber di kalangan preman menyebutkan, Thalib merupakan pengganti Basri Sangaji. Ia menguasai tempat - tempat hiburan elite di Jakarta Selatan. "Termasuk lingkungan pasar Blok M - Melawai," katanya.

John Kei
Adapun kelompok John Kei, menurut salah satu pentolannya, Agrafinus, berfokus pada jasa penagihan dan pengacara. Kelompok ini tidak masuk ke bisnis pengamanan tempat hiburan, perparkiran, ataupun pembebasan tanah. "Level kami bukan kelas recehan seperti itu," katanya. Sebab itulah, Daud Kei membantah tuduhan pertikaian di Blowfish dan Ampera dilatari perebutan lahan bisnis. "Kami etnis Maluku tidak ada bisnis penjagaan tempat hiburan," dia menegaskan.

Namun, menurut seorang preman senior, pertikaian antarkelompok separah itu umumnya karena berebut suplai atau meminta jatah. Sebab, perputaran uang di tempat - tempat dugem ( dunia gemerlap ) itu luar biasa besar. "Bayangin aja, dari suplai tisu, snack, minuman, sampai narkoba ada," tuturnya.

Berbeda dengan John Kei, Umar Kei meluaskan bisnisnya ke pembebasan tanah, termasuk penjagaannya. Di lahan ini juga bermain Forum Betawi Rempug dan Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten. Adapun perparkiran umumnya dipegang ormas lokal Betawi atau Banten, contohnya Haji Lulung.

Dari semua bisnis yang dilakoni kelompok etnis itu, sumber menuturkan, penghasilan terbesar ada di proyek pembebasan tanah. "Nilainya setara dengan uang jajan setahun," katanya. Mereka biasa menyebut penghasilan ini sebagai "jatah preman", yang dipelesetkan menjadi "jatah reman". Di tingkat kedua, penjagaan tempat hiburan malam. Kali ini jatahnya dipakai untuk "uang jajan sebulan". Sedangkan bisnis perpakiran menghasilkan jatah reman berupa "uang jajan harian".

Tak mengherankan bila dunia para jagoan ini sering diwarnai pertikaian, bahkan sampai berdarah - darah


John Refra Kei, 1 dari 3 Preman Ternama Di Indonesia



Sebelum anda membaca berita terbaru seputar Berita Penangkapan / Penambakan "John Refra Kei", ada baiknya anda baca dulu profil preman terkenal "John Refra Kei".
PROFIL JOHN KEI, THE BIG BOSS MALUKU UTARA

Jhon Refra Kei atau yang biasa disebut Jhon Kei, tokoh pemuda asal Maluku yang lekat dengan dunia kekerasan di Ibukota. Namanya semakin berkibar ketika tokoh pemuda asal Maluku Utara pula, Basri Sangaji meninggal dalam suatu pembunuhan sadis di Hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu.

Padahal dua nama tokoh pemuda itu seperti saling bersaing demi mendapatkan nama lebih besar. Dengan kematian Basri, nama Jhon Key seperti tanpa saingan. Ia bersama kelompoknya seperti momok menakutkan bagi warga di Jakarta.

Untuk diketahui, Jhon Kei merupakan pimpinan dari sebuah himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara. Mereka berhimpun pasca - kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama resmi himpunan pemuda itu Angkatan Muda Kei ( AMKEI ) dengan Jhon Kei sebagai pimpinan. Ia bahkan mengklaim kalau anggota AMKEI mencapai 12 ribu orang.

Lewat organisasi itu, Jhon mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector alias penagih utang. Usaha jasa penagihan utang semakin laris ketika kelompok penagih utang yang lain, yang ditenggarai pimpinannya adalah Basri Sangaji tewas terbunuh. Para ‘klien’ kelompok Basri Sangaji mengalihkan ordernya ke kelompok Jhon Kei. Aroma menyengat yang timbul di belakang pembunuhan itu adalah persaingan antara dua kelompok penagih utang.

Bahkan pertumpahan darah besar - besaran hampir terjadi tatkala ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, golok, celurit saling berhadapan di Jalan Ampera Jaksel persis di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada awal Maret 2005 lalu. Saat itu sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa pembunuhan Basri Sangaji. Beruntung 8 SSK Brimob Polda Metro Jaya bersenjata lengkap dapat mencegah terjadinya bentrokan itu.

Sebenarnya pembunuhan terhadap Basri ini bukan tanpa pangkal, konon pembunuhan ini bermula dari bentrokan antara kelompok Basri dan kelompok Jhon Key di sebuah Diskotik Stadium di kawasan Taman Sari Jakarta Barat pada 2 Maret 2004 lalu. Saat itu kelompok Basri mendapat ‘order’ untuk menjaga diskotik itu. Namun mendadak diserbu puluhan anak buah Jhon Kei Dalam aksi penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang menjadi petugas security di diskotik tersebut tewas dan belasan terluka.

Polisi bertindak cepat, beberapa pelaku pembunuhan ditangkap dan ditahan. Kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Namun pada 8 Juni di tahun yang sama saat sidang mendengarkan saksi - saksi yang dihadiri puluhan anggota kelompok Basri dan Jhon Kei meletus bentrokan. Seorang anggota Jhon Kei yang bernama Walterus Refra Kei alias Semmy Kei terbunuh di ruang pengadilan PN Jakbar. Korban yang terbunuh itu justru kakak kandung Jhon Key, hal ini menjadi salah satu faktor pembunuhan terhadap Basri, selain persaingan bisnis juga ditunggangi dendam pribadi.

Pada Juni 2007 aparat Polsek Tebet Jaksel juga pernah meminta keterangan Jhon Key menyusul bentrokan yang terjadi di depan kantor DPD PDI Perjuangan Jalan Tebet Raya No.46 Jaksel. Kabarnya bentrokan itu terkait penagihan utang yang dilakukan kelompok Jhon Key terhadap salah seorang kader PDI Perjuangan di kantor itu. Bukan itu saja, di tahun yang sama kelompok ini juga pernah mengamuk di depan Diskotik Hailai Jakut hingga memecahkan kaca - kaca di sana tanpa sebab yang jelas.

Sebuah sumber dari seseorang yang pernah berkecimpung di kalangan jasa penagihan utang menyebutkan, Jhon Kei dan kelompoknya meminta komisi 10 persen sampai 80 persen. Persentase dilihat dari besaran tagihan dan lama waktu penunggakan. “Tapi setiap kelompok biasanya mengambil komisi dari kedua hal itu,” ujar sumber tersebut.

Dijelaskannya, kalau kelompok John, Sangaji atau Hercules yang merupakan 3 Besar Debt Collector Ibukota biasanya baru melayani tagihan di atas Rp 500 juta. Menurutnya, jauh sebelum muncul dan merajalelanya ketiga kelompok itu, jasa penagihan utang terbesar dan paling disegani adalah kelompok pimpinan mantan gembong perampok Johny Sembiring, kelompoknya bubar saat Johny Sembiring dibunuh sekelompok orang di persimpangan Matraman Jakarta Timur tahun 1996 lalu.

"Kalau kelompok tiga besar itu biasa main besar dengan tagihan di atas Rp 500 juta’an, di bawah itu biasanya dialihkan ke kelompok yang lebih kecil. Persentase komisinya pun dilihat dari lamanya waktu nunggak, semakin lama utang tak terbayar maka semakin besar pula komisinya,” ungkap sumber itu lagi. Dibeberkannya, kalau utang yang ditagih itu masih di bawah satu tahun maka komisinya paling banter 20 persen. Tapi kalau utang yang ditagih sudah mencapai 10 tahun tak terbayar maka komisinya dapat mencapai 80 persen.
Bahkan menurut sumber tersebut, kelompok penagih bisa menempatkan beberapa anggotanya secara menyamar hingga berhari - hari bahkan berminggu - minggu atau berbulan-bulan di dekat rumah orang yang ditagih. “Pokoknya perintahnya, dapatkan orang yang ditagih itu dengan cara apa pun,” ujarnya.

Saat itulah kekerasan kerap muncul ketika orang yang dicari - carinya apalagi dalam waktu yang lama didapatkannya namun orang itu tak bersedia membayar utangnya dengan berbagai dalih. “Dengan cara apa pun orang itu dipaksa membayar, kalau perlu culik anggota keluarganya dan menyita semua hartanya,” lontarnya.

Dilanjutkannya, ketika penagihan berhasil walaupun dengan cara diecer alias dicicil, maka saat itu juga komisi diperoleh kelompok penagih. “Misalnya total tagihan Rp 1 miliar dengan perjanjian komisi 50 persen, tapi dalam pertemuan pertama si tertagih baru dapat membayar Rp 100 juta, maka kelompok penagih langsung mengambil komisinya Rp 50 juta dan sisanya baru diserahkan kepada pemberi kuasa. Begitu seterusnya sampai lunas. Akhirnya walaupun si tertagih tak dapat melunasi maka kelompok penagih sudah memperoleh komisinya dari pembayaran - pembayaran sebelumnya,”

Dalam ‘dunia persilatan’ Ibukota, khususnya dalam bisnis debt collector ini, kekerasan kerap muncul diantara sesama kelompok penagih utang. Ia mencontohkan pernah terjadi bentrokan berdarah di kawasan Jalan Kemang IV Jaksel pada pertengahan Mei 2002 silam, dimana kelompok Basri Sangaji saat itu sedang menagih seorang pengusaha di rumahnya di kawasan Kemang itu, mendadak sang pengusaha itu menghubungi Hercules yang biasa ‘dipakainya’ untuk menagih utang pula.

“Hercules sempat ditembak beberapa kali, tapi dia hanya luka - luka saja dan bibirnya terluka karena terserempet peluru. Dia sempat menjalani perawatan cukup lama di sebuah rumah sakit di kawasan Kebon Jeruk Jakbar. Beberapa anak buah Hercules juga terluka, tapi dari kelompok Basri seorang anak buahnya terbunuh dan beberapa juga terluka,” tutupnya.

Selain jasa penagihan utang, kelompok Jhon Kei juga bergerak di bidang jasa pengawalan lahan dan tempat. Kelompok Jhon Kei semakin mendapatkan banyak ‘klien’ tatkala Basri Sangaji tewas terbunuh dan anggota keloompoknya tercerai berai. Padahal Basri Sangaji bersama kelompoknya memiliki nama besar pula dimana Basri CS pernah dipercaya terpidana kasus pembobol Bank BNI, Adrian Waworunto untuk menarik aset - asetnya. Tersiar kabar, Jamal Sangaji yang masih adik sepupu Basri yang jari - jari tangannya tertebas senjata tajam dalam peristiwa pembunuhan Basri menggantikan posisi Basri sebagai pimpinan dengan dibantu adiknya Ongen Sangaji.

Kelompok Jhon Kei pernah mendapat ‘order’ untuk menjaga lahan kosong di kawasan perumahan Permata Buana, Kembangan Jakarta Barat. Namun dalam menjalankan ‘tugas’ kelompok ini pernah mendapat serbuan dari kelompok Pendekar Banten yang merupakan bagian dari Persatuan Pendekar Persilatan Seni Budaya Banten Indonesia ( PPPSBBI ).

Sekedar diketahui, markas dan wilayah kerja mereka sebetulnya di Serang dan areal Provinsi Banten. Kepergian ratusan pendekar Banten itu ke Jakarta untuk menyerbu kelompok Jhon Kei pada 29 Mei 2005 ternyata di luar pengetahuan induk organisasinya. Kelompok penyerbu itu pun belum mengenal seluk - beluk Ibukota.

Akibatnya, seorang anggota Pendekar Banten bernama Jauhari tewas terbunuh dalam bentrokan itu. Selain itu sembilan anggota Pendekar Banten terluka dan 13 mobil dirusak. 3 SSK Brimob PMJ dibantu aparat Polres Jakarta Barat berhasil mengusir kedua kelompok yang bertikai dari areal lahan seluas 5.500 meter persegi di Perum Permata Buana Blok L/4, Kembangan Utara Jakbar. Namun buntut dari kasus ini, Jhon Kei hanya dimintakan keterangannya saja.

Sebuah sumber dari kalangan ini mengatakan kelompok penjaga lahan seperti kelompok Jhon Kei biasanya menempatkan anggotanya di lahan yang dipersengketakan. Besarnya honor disesuaikan dengan luasnya lahan, siapa pemiliknya, dan siapa lawan yang akan dihadapinya

Semakin kuat lawan itu, semakin besar pula biaya pengamanannya. Kisaran nominal upahnya, bisa mencapai milyaran rupiah. Perjanjian honor atau upah dibuat antara pemilik lahan atau pihak yang mengklaim lahan itu milikya dengan pihak pengaman. Perjanjian itu bisa termasuk ongkos operasi sehari - hari bisa juga diluarnya, misalnya untuk sebuah lahan sengketa diperlukan 50 orang penjaga maka untuk logistik diperlukan Rp 100 ribu per orang per hari, maka harus disediakan Rp 5 juta / hari atau langsung Rp 150 juta untuk sebulan.

Selain pengamanan lahan sengketa, ada pula pengamanan asset yang diincar pihak lain maupun menjaga lokasi hiburan malam dari ancaman pengunjung yang membikin onar maupun ancaman pemerasan dengan dalih ‘jasa pengamanan’ oleh kelompok lain, walau begitu tapi tetap saja mekanisme kerja dan pembayarannya sama dengan pengamanan lahan sengketa.

Selain John Refra Kei Masih ada 2 ( dua ) lagi preman besar ternama di Indonesia, Baca Selengkapnya di : ( Foto & Profil Jhon Kei, Herculer, Olo Panggabean ( 3 Preman Besar Ternama DI Indonesia )
Berita Penangkapan / Penambakan "John Refra Kei"
Seperti yang saat ini heboh di beritakan "John Refra Kei" ditangkap bersama seorang artis wanita di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur.

Polisi menangkap John Kei, tokoh ormas pemuda, di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur. Ia ditangkap bersama seorang artis perempuan berinisial AF.

Informasi dari sumber perwira di kepolisian mengatakan, John Key ditangkap bersama AF di kamar 501 Hotel C'One.

Saat ini, artis yang merupakan adik dari rocker era 80-an itu masih diperiksa intensif di Mapolda Metro Jaya. Saat ditangkap, wanita keturunan Arab itu mengenakan baju warna hitam.

Kuasa hukum John Kei, Taufik Candra membenarkan soal penangkapan kliennya itu. "Iya betul," kata Taufik.

Sejauh ini, belum ada pihak kepolisian yang bisa dikonfirmasi terkait penangkapan John Kei ini. Kepala Subdit Umum Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Helmy Santika tidak menjawab saat dihubungi.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto saat dihubungi secara terpisah mengaku belum mendapat informasi terkait penangkapan tersebut.

"Saya belum tahu. Nanti saya cek dulu," kata Rikwanto.

Kronologi Penangkapan John Kei di Hotel C'One Versi Adik

Adik kandung John Kei, Tito Refra Kei, berada di hotel C'One Pulomas, Jakarta, saat penangkapan terjadi. Dia pun menceritakan kronologi kejadian yang berbuntut pada penembakan tersebut.

Berikut kronologi yang disampaikan Tito saat ditemui di RS Polri Kramat Jati, Sabtu (18/2/2012), dinihari:

Pukul 19.30 WIB

Tito sedang duduk di sebuah restoran di Hotel C'One. Saat itu, seluruh pagar dan pintu hotel sudah ditutup oleh kepolisian. Banyak mobil aparat yang masuk ke dalam hotel.

Tito saat itu ditanya soal keberadaan John Kei. Namun dia mengaku tidak tahu karena baru saja tiba di hotel.

Pukul 20.00 WIB

100 Polisi bergerak masuk ke dalam hotel. Tak lama berselang, Tito melihat John Kei sudah keluar dari kamar hotel dengan kaki terluka di bagian kanan.

Pukul 20.30 WIB

John Kei dibawa ke Polda Metro Jaya untuk mendapatkan perawatan pertama. Di Polda, Tito sempat menanyakan kasus apa yang menjerat kakaknya dan alasan penembakan, namun dia tidak mendapat jawaban.

Pukul 22.00 WIB

John Kei dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk mendapat perawatan. Baik Tito maupun tim kuasa hukum John saat ini sedang menunggu supaya bisa menjenguk.

Dibawa ke Ruang Rawat Tahanan, John Kei Tampak Lemas

Usai mendapatkan perawatan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RS Polri Kramat Jati, John Kei akhirnya dipindahkan ke ruangan perawatan khusus untuk tahanan. Masih dengan pengawalan ketat polisi, John Kei dibawa menuju Ruang Tembusa.

Sabtu (18/2/2012), tak terdengar sepatah kata pun keluar dari mulut pria bertubuh kekar tersebut. Hanya terlihat wajah menahan sakit dan matanya sesekali terbuka.

John masih mengenakan baju yang sama. Hanya saja kini celananya berganti potongan pendek.

Adik kandung John Kei, Tito Refra Kei, dan kuasa hukumnya Taufik Chandra, masih tak diizinkan melihat kondisi John meski telah dipindahkan ke ruang perawatan khusus tahanan. Brimob juga masih terlihat berjaga ketat di sekitar ruangan perawatan.

Sempat terlihat negosiasi yang dilakukan pihak kuasa hukum kepada polisi agar dapat menjenguk John. Namun, upaya itu ditanggapi dingin.


Saat Ditangkap, John Kei Sedang Nyabu Bersama Artis Perempuan

Polisi menangkap John Refra Kei bersama seorang artis perempuan berinisial AF di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur. Saat ditangkap, keduanya ditangkap tengah berpesta sabu.

"Mereka berdua sedang menghisap sabu," kata seorang perwira polisi di Polda Metro Jaya Sabtu (18/2/2012).

Perwira polisi yang meminta namanya tidak disebutkan itu mengatakan, petugas menemukan sebuah alat hisap sabu (bong) di kamar 501 itu.

John Kei ditangkap di hotel tersebut pada Jumat (17/2) sekitar pukul 20.00 WIB. John Kei ditangkap terkait pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayung alias Tan Hari Tantono (50) di Swiss-Belhotel, Jakarta Pusat, Selasa (27/1) malam lalu.

Sebelumnya polisi telah menetapkan lima tersangka terkait pembunuhan Ayung itu. Kelimanya kini sudah ditahan dan dijerat pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Toni Harmanto membenarkan soal penangkapan John Kei terkait pembunuhan tersebut.

"Iya, soal itu (pembunuhan Ayung)," kata Toni singkat.

Keluarga Minta John Kei Dipindahkan dari RS Polri

Keluarga dan tim pengacara tidak diperbolehkan menjenguk John Kei di RS Polri Kramat Jati. Karena itu, mereka meminta agar John dipindahkan ke RSPAD Gatot Subroto.

"Saat masuk di dalam kita dipersulit, Nggak boleh masuk. Padahal saya sebagai adik juga kuasa hukum," kata adik John, Tito Refra Kei, di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (18/2/2012) dinihari.

"Kalau begini caranya, kita keluarga akan ajukan supaya dipindahkan ke RSPAD lebih fair," sambungnya.

Rencananya, permintaan itu akan dilayangkan pada malam ini juga. Tito berharap, apa yang dia ajukan bisa dikabulkan demi keamanan.

"Kita berharap secepatnya dipindahkan malam ini, karena sikap penangkapannya seperti itu, harusnya segera dipindahkan, kalau beliau ada apa-apa Jakarta gempar," tegasnya.

Pengacara John, Taufik Candra mengatakan, John memang tidak bisa ditemui dengan alasan masih diberi pertolongan. "Saya nggak tahu untuk apa dia ditangkap, kita juga nggak lihat surat penangkapan," ungkapnya.

John Kei ditangkap aparat gabungan Subdit Umum dan Subdit Resmob Polda Metro Jaya saat sedang berada di Kamar 501 Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur sekitar pukul 20.00 WIB tadi. Polisi memastikan, penangkapan dilakukan terkait kasus pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayung alias Tan Hari Tantono (50).

Polda: John Kei Ditangkap Terkait Pembunuhan Bos PT Sanex Steel

Kepolisian Daerah Metro Jaya membenarkan adanya penangkapan John Kei. Polisi menyatakan bahwa John Kei ditangkap terkait pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayung alias Tan Hari Tantono (50) di Swiss-Belhotel, Jakarta Pusat akhir Januari lalu.

"Iya, soal itu (pembunuhan Ayung)," ujar Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Toni Harmanto singkat kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Sabtu (18/2/2012).

Toni menolak memberikan keterangan lebih rinci soal penangkapan ini. Ia mengatakan, pihaknya akan memberikan keterangan secara resmi, Sabtu pagi.

"Besok dirilis," ucapnya sambil menaiki mobilnya.

John Kei ditangkap di kamar 501 Hotel C'One Pulomas, Jakarta Timur pada Jumat (17/2) malam lalu. Pria bernama lengkap John Refra Kei ini ditangkap bersama seorang artis perempuan berinisial AF.

Pembunuhan Ayung sendiri terjadi pada Selasa (27/1) lalu di Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Sebelumnya, polisi telah menetapkan lima tersangka terkait pembunuhan bos PT Sanex Steel itu.

Motif sementara, diduga karena Ayung tidak membayar fee atas jasa para tersangka yang merupakan debt collector itu. Diduga, Ayung dibunuh oleh lebih lima orang.

John Kei disebut-sebut sempat datang ke hotel di mana Ayung dibunuh, beberapa saat setelah empat orang masuk lebih dulu ke kamar 2701. Hal itu terekam dalam CCTV (circuit closed television) hotel.

Profil pahlawan perang Indonesia !

langsung aja dach

Dengan truk prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), dievakuasi. TNI dibentuk oleh penggabungan dari tentara Republik dan pemuda-pemuda di 3 Juni 1947. Di Jawa mereka memiliki sekitar 110.000 dan sekitar 64.000 orang di Sumatera. Indonesia 18 Februari 1948.


merekrut tentara Republik untuk latihan untuk berlatih dengan model pistol kayu, Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia, pada bulan Desember 1947.


[Yogyakarta] Pidato oleh Komandan setelah inspeksi senjata pada 21 Desember 1947












pejuang eks PETA 1944


arek arek suroboyo 1945


penyambutan pasukan gerilya yang turun gunung di magelang 1945


prajurit Indonesia Samarang front mendarat di Yogyakarta, Indonesia, senjata otomatis di tangan, akhir bulan Desember 1947. (perhatikan papan baleho dibelakang)


pasukan gerilya masuk ke kota jogja 1947


Ditangkap ekstremis Indonesia, mengangkat tangan mereka, oleh tentara Belanda (KNIL / KNIL pasukan) dikawal, Indonesia pada bulan Januari 1947. ( helm nya cuy hehehe .. wermach punya)


eks tentara PETA yang baru turun di stasiun mangarai 1947


amir syarifudin


presiden sukarno dalm kunjungan ke Rangkabitung dalam kawalan TRI


PM sutan sharir di dalam kereta kepresidenan setelah dari rangkasbitung bersama presiden Sukarno


laskar rakyat tumbak


seorang pejuang yang tertangkap oleh tentara jepang dan kemudian di jadikan romusha



gerbong kereta pembawa romusha yang di pulangkan oleh pemerintah ned-idies 1949 di sta tj priuk dan kemudian menyebar di seluruh jakarta .. setelah itu maka di jakarta terdapat daerah2 seperti kampung bali, kampung ambon, mangarai dsb .. karena merekalah penghuni pertama daerah tersebut


Parade militer 1948 ketika kedatangan Bung Karno di Jogjakarta