Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

Jumat, 03 Mei 2013

Sepak terjang CIA di Indonesia

  
Many people said: “CIA rules the world..!” Ketika terjadi pemberontakan, sabotase dan spionase di beberapa negara dunia yang berseberangan dengan kepentingan Amerika, publik dan pengamat langsung menunjukkan jari mereka ke CIA. Apa itu CIA? Apa yang melatarbelakangi berdirinya CIA? Disini saya coba mengutip beberapa sumber artikel dari wikipedia dan buku ‘Suar Suroso : Bung Karno – Korban Perang Dingin’ serta Confession of EHM dan A Games As Old As Empire. 

Apa itu CIA? 
CIA Rules The World
CIA atau Central Intelligence Agency merupakan agen rahasia pemerintah Amerika Serikat (BIN-nya Indonesia). Didirikan pada 18 September 1947 sesuai penandatanganan NSA 1947 (National Security Act) oleh Presiden Harry S. Truman CIA merupakan kamuflase dari OSS (Office of Strategic Services) yang menjadi agen spionase Amerika untuk pemenangan Perang Dunia II (PD II). Pada saat PD II berkecamuk, Amerika secara diam-diam mengambil kesempatan dengan membangun kekuatan baru secara rahasia di Eropa demi membendung pengaruh komunis. Kerja keras agen rahasia Amerika semakin bertambah, ketika fasis Hitler mengalami kekalahan dan diikuti kemenangan dan kemunculan kekuatan sosialis dan komunis di Eropa, Asia dan Amerika Latin.
Menghadapi ‘bahaya’ pertumbuhan pesat pengaruh komunis di berbagai negeri tersebut, dan demi mempengaruhi hasil pemilu di Italia [saat itu Italia akan melakukan pemilu, dan dari perhitungan survei, pemilu akan dimenangi Partai Komunis Italia] agar menguntungkan politik Amerika Serikat, diadakannya kampanye di kalangan orang kaya Wallstreet untuk menyumbangkan dana buat melakukan operasi-operasi rahasia. Dalam hubungan ini, Allen Dulles dengan keras mendesak Pemerintah Amerika Serikat untuk segera mendirikan organisasi-organisasi rahasia demi melakukan berbagai operasi khusus-opsus. Maka pemerintah [AS] menyetujui dan menetapkan dua ketentuan penting mengenai operasi-operasi khusus ini : 1. Harus rahasia 2. Harus masuk akal untuk dapat dibantah adanya keterlibatan Pemerintah [AS], seandainya operasi tersebut terbongkar. (Sumber : Bung Karno Korban Perang Dingin, hal:103)
Salah satu badan operasi khusus yang didirikan adalah CIA pada tahun 1947.  

Fungsi CIA Seperti dijelaskan di depan, CIA muncul sebagai reaksi perang dingin yakni antara Amerika Serikat (liberal kapitalis) dengan Uni Soviet (komunis-sosialis). Diawal-awal pembentukan, aksi-aksi CIA cukup memuaskan bagi pemerintah AS. CIA berhasil menenggelamkan paham komunis dan sosialis melalui berbagai konspirasi, sehingga perang ideologi cukup sukses dimenangkan Amerika. Dengan berkurangnya pengaruh Soviet serta hancurnya negara-negara sosialis melalui kudeta dan pemberontakkan, CIA mulai memasuki isu keamanan energi. Operasi-operasi yang awalnya merupakan perang melawan ideologi (komunis, sosialis dan nasionalis), kini mereka bertugas menguasai negara-negara yang kaya dengan sumber daya alam dan minyak dibawah kendali AS. Mereka terus memburu negeri-negeri yang kaya sumber daya alam, dari Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika hingga Indonesia (Buku : Confession Economic Hitman dan A Game as Old As Empire). Untuk memuluskan rencana-rencana kotornya, selalu ada EHM yang mendahului jalan CIA. Indonesia yang kaya raya akhirnya dimiskinkan sejak 1967 hingga saat ini (penjajahan ekonomi). 

Dengan bantuan-bantuan ahli ekonomi AS, EHM, CIA, Word Bank, IMF, ADB, negara-negara seperti Indonesia, Panama, Paraguay terjerat utang dan terjajah secara ekonomi. Begitu juga negara-negara Afrika yang kaya dengan emas, alumunium, dan minyak, rakyatnya mati kelaparan. Yang paling tragis, aksi-aksi lembaga dan organisasi AS ini didukung oleh sejumlah oknum di pemerintahan sejak Orde Baru. Emas dan Tembaga di Tembagapura disedot habis-habisan oleh Freeport ditengah kemiskinan dan rendahnya pendidikan masyarakat Papua. Kontrak migas pun dilelang seperti barang tidak berharga, dan mengakibat Indonesia terkatung-katung tatkala harga minyak naik (Juli 2008 ) dan konsumsi meningkat di atas 1 juta barel per hari. Berbagai tindakan kejam perusahaan dan kepentingan Amerika mendapat legitisami hukum lewat beberapa UU (yang jelas melanggar UUD 1945). Kita tidak perlu bingung atas terbitnya beberapa UU (Migas, Pendidikan, Ekonomi), karena  produk hukum Indonesia merupakan titipan pemerintah Amerika. Selain kedua hal tersebut [ideologi, keamanan energi dan ekonomi], CIA saat ini sedang bingung mengalahkan sejumlah kelompok Islam Radikal yang disebut sebagai teroris seperti Al-Qaeda, Taliban, Hamas, dan Hizbullah.  

Keberhasilan CIA Secara gamplang, CIA berhasil memberi hadiah kepada pemerintah Amerika atas kemenangannya membendung pengaruh komunisme, yakni hancurnya Uni Soviet tahun 1991 (kini Rusia), mengucilkan Korea Utara dan Kuba, serta menyeret negara-negara Eropa Timur, Timur Tengah [Arab Saudi, Mesir, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab], Asia Tenggara (Filipina, Singapura, Indonesia), Asia Selatan [Pakistan, Afganistan, 'India'], Afrika, serta sejumlah negara lain [Jepang, Korsel] menjadi ‘anaknya’. Disisi positifnya, banyak kasus yang ditangani CIA seperti peredaran narkotika, organasisi kejahatan internasional, perdagangan senjata gelap, dan beberapa kontra-teroris berhasil dicapai CIA.  

Beberapa ‘kemenangan sementara’ CIA: – Berhasil memisahkan Korea Selatan dari pengaruh komunis (BKKPD) – Berhasil memecahbelah Uni Soviet (1991) (BKKPD) – Berhasil mengkudeta Pemerintahan Chili (Wikipedia) – Berhasil menumbangkan Saddam Hussein (EHM) – Berhasil mengusir Uni Soviet dari Afganistan atas bantuan Taliban (EHM) – Berhasil men-amerika-kan Jerman Timur/Barat. – Berhasil mengulingkan Soekarno melalui Gestapu 1965 (Gestapu merupakan kata yang dikenal militer AS : Gerakan September 30 –>format Inggris ; beda 30 September –>format Indonesia) -(BKKPD) – Berhasil menliberalkan Italia (BKKPD) – Berhasil menyepahamkan Prancis (BKKPD) – Berhasil membunuh Presiden Ekuator, Jaime Roldos. (EHM) – Berhasil membunuh Presiden Panama, Omar Torrijos.(EHM) – Berhasil menguasai kepentingan Dinasti Saudi.(EHM) – Berhasil menendang Uni Soviet dari Afganistan (1980-an) – dan banyak lagi  

Kegagalan CIA Meskipun ada sejumlah keberhasilan CIA, namun banyak catatan hitam CIA yang terbongkar dan gagal. – Agen CIA kecolongan informasi runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989 – CIA gagal menjaga WTC, 11 September 2001 – CIA gagal menutup kebohongan senjata pemusnah massal di Irak – CIA gagal mempertahankan Venezuela, Brazil, Bolivia agar tidak bengis terhadap Amerika. – CIA gagal melumpuhkan Iran setelah diplomatnya di’segel’ oleh mahasiswa di Teheran (4 November 1979). – CIA gagalkan memecahkan Indonesia melalui pemberontakkan PRRI-Semesta di tahun 1957. – Gagal membunuh Soekarno secara langsung – 14 kali gagal membunuh Fidel Castro – CIA gagal membelokkan paham di China – TNI berhasil menembak jatuh pesawat pembom CIA pada 18 Mei 1958 dalam konspirasi PRRI-Semesta. Pilotnya, Allan Pope berhasil ditawan tentara setelah berhasil menyelamatkan diri dengan terjun payung.  

Indonesia dan CIA Sudah menjadi ‘habit’ jika suatu negara yang sangat maju dengan paham kehausan materi dan kekuasaan, mereka akan berusaha memperoleh apa saja dengan cara apapun. Kondisi ekonomi, politik, dan sosial masyarakat Indonesia saat ini tidak terlepas dari tangan-tangan CIA. Indonesia berhasil dijajah kembali (secara ekonomi dan politik) sejak 1967. CIA juga secara meyakinkan telah ikut serta dalam Gestapu 1965. Dan beberapa sumber mengatakan bahwa dalam pemilu, banyak dana yang mengalir dari asing (tanpa terbongkar) atas prestasi CIA (masih belum terbukti).

 Sehingga, menjelang Pemilu 2009, kita harus waspada juga jika AS berkepentingan terhadap calon presiden nanti (jangan sampai  Pemilu Italia 1948 terulang di Indonesia). Akhir kata, Soekarno, founding father kita hanyalah korban dari instansi CIA. Semoga melalui pengalaman sejarah, rakyat Indonesia paham betul dan merasa memiliki Indonesia. Jaga, rawat dan raihlah kembali Indonesia agar tidak jatuh ditangan asing. Meskipun Amerika saat ini sedang rapuh, Indonesia harus tetap waspada akan adanya CIA-CIA baru seperti  5 warga Australia [terindikasi spionase] yang masuk tanpa izin di tanah Papua pada September 2008 silam. Begitu juga potensi ‘spy’ yang suatu saat mungkin saja muncul dari negara-negara kuat (China, India) maupun tetangga (Malaysia). 

Penutup Karena referensi buku dan artikel yang saya gunakan yakni John Perkins (EHM), Steven Hiat (AGAOAE), Suar Suroso (BKKPD), Wikipedia, belum tentu 100% benar, maka kritik, saran, koreksi dan masukan sangat saya harapkan. Untuk mendapatkan artikel yang lengkap mengenai CIA silahkan baca di : http://en.wikipedia.org/wiki/CIA Terima Kasih (echnusa) (nusantaranews.wordpress ) Sumber Referensi : – Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/CIA) – Suar Suroso.2008. Bung Karno Korban Perang Dingin. Jakarta : Hasta Mitra (BKKPD) – John Perkins.2004. Confession of Economic Hitman. (EHM) – Steven Hiatt.2008. A Game as Old As Empire (AGAOAE) - Biro CIA (kontribusi blogger bayhakiramli ) - Data CIA tentang Indonesia (kontribusi blogger bayhakiramli )

Jejak CIA di Indonesia

Seorang agen CIA ditangkap di Bogor. Cerita beginian sudah sering terjadi.

Bob Marshall  ditangkap ketika mengurus paspor di Bogor, Jawa Barat. Diduga pendatang haram, eh ternyata lelaki ringkih itu adalah agen Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat. Kini Marshall meringkuk di ruang tahanan Mabes Polri. Siapa si Marshal ini baca : Agen CIA Ditangkap di Bogor. Beroperasinya agen CIA di Indonesia bukan kisah baru. Sejumlah buku – dari yang akademis hingga yang cuma bermodal teori konspirasi – mengisahkan sepak terjang mereka semenjak jaman Soekarno. Legacy of Ashes, the History of CIA, karya Tim Weiner seorang wartawan The New York Times, misalnya, juga berkisah bagaimana mereka beroperasi.  CIA bahkan pernah mengklaim memiliki agen yang cerdas di sini yakni Adam Malik, yang di belakang hari diangkat menjadi Menteri Luar Negeri oleh Presiden Soeharto. 

Kisah Intel CIA di Bogor

Bahaya bermain agen ganda.

Dia jauh dari sosok agen rahasia dalam film spy Amerika yang kerap kita tonton. Robert Marshall Read tidaklah gagah. Usianya 56 tahun. Badannya ringkih, dan rambutnya putih perak. Hidungnya khas: tinggi berlengkung tajam. Sudah sepekan lelaki itu meringkuk di sel pojok kanan lantai satu gedung Badan Reserse Kriminal Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Tapi dia memang agak istimewa. Selama ditahan, selnya kerap dikunjungi warga asing. Siapa Marshall? Dua informasi berbeda mencuat tentang lelaki ini. Ada yang bilang dia agen Central Intelligence Agency (CIA) yang bermarkas di Washington DC, Amerika. 

Sebaliknya, dia disebut-sebut buronan lembaga mata-mata kelas wahid itu. Tapi mari berpegang pada keterangan resmi Mabes Polri, bahwa Marshall adalah bekas CIA, dan sekaligus buronan lembaga mata-mata itu. Dia dituduh terlibat perdagangan senjata api gelap, dan sejumlah kejahatan lain di Amerika, Inggris, dan Rusia. Kata polisi, Marshall agen yang licin. CIA memburunya sejak 1974. Mengantongi 50 paspor berbagai negara, dia bisa melanggang ke pelbagai penjuru dunia. Pada Agustus 2007, dari Johor, Malaysia, dia menyeberang ke Batam.  Di Indonesia, petualangannya lebih seru. Dia jatuh cinta dengan Lisna Herawati saat berada di Jakarta. Dia pun menikah dengan gadis 32 tahun itu. Mereka menetap di Cianjur. Lengkap dengan KTP dan paspor setempat. 

Enam bulan kemudian, Marshall hendak meninggalkan Indonesia. Bersama Lisna, dia mengurus paspor di Kota Bogor, pada Januari 2008. Tapi, entah salah pada bagian apa, petugas Imigrasi di Bogor curiga. Kepala Imigrasi Bogor meneruskan informasi ini ke Kedutaan Besar Amerika. Lalu kedutaan itu mengutus tiga petugasnya. Di sinilah pertama kali muncul cerita Marshall adalah buronan CIA itu. Setelah penangkapan itu, tak jelas di mana Marshall berada. Cerita soal dia simpang-siur. Informasi dari petugas Imigrasi saat itu, Marshall segera dideportasi ke Amerika. *** Senin 14 Januari 2010. Seorang calo paspor, R. Simbolon, datang ke kantor Imigrasi Bogor di Jalan Ahmad Yani, Tanah Sareal, Kota Bogor. Simbolon membawa dokumen atas nama Robert Marshall Reid. Tujuannya mengurus paspor. “Dia menempuh prosedur normal,” kata Kepala Imigrasi Bogor, Ahmad Hasaf. Petugas pun meminta Simbolon membawa Marshall pada Selasa 15 Januari 2010. Lelaki itu tiba pukul 10.30 WIB, bersama istrinya Lisna Herawati. Petugas mewawancarainya kembali. 

Aneh memang. Petugas imigrasi seperti tak punya data pemeriksaan Marshall dua tahun silam. Tapi toh tetap ada yang mencurigakan. Marshal mengaku warga Indonesia keturunan Inggris. Namun gagap bicara Indonesia. “Padahal seluruh dokumennya menunjukkan dia Indonesia asli,” kata Ahmad. Marshall punya kartu tanda penduduk bernomor 09.5005020352.0248 yang diteken Lurah Cempaka Putih Timur, Rugan M. Faisal. Di dalam KTP itu tertulis Robert beragama Islam, lahir di Jakarta, dan beralamat di Jalan Cempaka Putih Tengah XV/6 RT 01/08, Jakarta Pusat. Selain KTP, ada juga buku nikah bernomor 134/52/III/2006, diteken H. Damar yang disebut petugas Kantor Urusan Agama Mampangprapatan, Jakarta Selatan. Di kolom isteri tertera nama Lisna dengan wali nikah Badang, seorang purnawirawan TNI. Dokumen itu diduga palsu. Untuk kedua kalinya Marshall digiring ke ruang Pengawas dan Penindak Keimigrasian. Sayangnya, si calo Simbolon yang hendak diperiksa sudah kabur duluan. Lisna juga tak bisa menjawab soal status kewarganegaraan Marshall. ”Selanjutnya, saya melaporkannya ke Kedutaan Amerika,” kata Ahmad. 

Hari itu juga tiga petugas Kedutaan Amerika datang ke Bogor. Setelah berbicara dengan Marshall dan meneliti data-datanya, tiga petugas itu mengakui Marshall warga negara mereka. “Disebutkan, Marshall pelaku tindak kriminal dan buronan tiga negara yakni AS, Inggris dan Rusia,” katanya. Menurut informasi dari Kedutaan Amerika yang masuk ke Ahmad, Marshall terlibat kasus cek kosong, pemalsuan dokumen, dan senjata illegal. Cerita ini persis seperti disampaikan petugas Kedutaan Amerika dua tahun lalu. Sehari kemudian, Marshall dititipkan ke tahanan Mabes Polri. Di sinilah muncul informasi Marshall adalah agen CIA. “Kami mencari tahu apa motifnya berada di Indonesia,” kata Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Ito Sumardi. 

 

*** Jejak CIA di Indonesia, sepertinya juga bukan hal baru. Setidaknya, cerita itu sudah muncul sejak lembaga intel berdiri 1947. Pada masa itu, Harry S. Truman memimpin Amerika (1945-1953), dan dia membuat doktrin mengisolasi Uni Sovyet secara politik dan ideologi. Amerika lalu rajin menghadang komunisme di seluruh dunia. Pada masa Sukarno, yang anti imperialisme, dan condong ke Partai Komunis Indonesia, Indonesia menjadi intaian CIA. Tercatat sejumlah pemberontakan dalam negeri, disebut-sebut berkait dengan intelijen Amerika. Sepak terjang lembaga intel Abang Sam ini pernah diulas tajam dalam Legacy of Ashes, the History of CIA, karya Tim Weiner, wartawan The New York Times, pemenang Pulitzer. 

Setelah Sukarno tumbang, cerita soal intel Amerika beraksi di Indonesia muncul samar-samar. Layaknya organisasi intel, tak tercium geraknya. Paling banter, tudingan diarahkan ke jaringan Amerika di lingkaran elit teknokrat. Pada awal orde baru, sempat mencuat sebutan Mafia Berkeley, semacam koneksi elit pendukung orde baru, yang dididik di Universitas Berkeley, California, Amerika. Nama CIA juga timbul tenggelam. Terakhir, misalnya, ada tudingan Laboratorium Namru-2 di Departemen Kesehatan bekerja untuk kepentingan intelijen Amerika. Namru adalah kerjasama Departemen Kesehatan RI dan Angkatan Laut Amerika sejak 1975. Dua lembaga swadaya masyarakat, An Nashr Institute dan Medical Emergency Rescue Committee menuding lab itu bekerja untuk intelijen Amerika. Para peneliti Namru, kata mereka, boleh membawa penelitian ke luar Indonesia tanpa diperiksa. Terakhir, nama CIA mencuat tatkala penangkapan Umar al Faruq di Bogor pada 2002. 

Dicokoknya al-Faruq adalah bagian “perang melawan teror” yang digelorakan George W Bush setelah serangan al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin, ke dua menara WTC di New York, 11 September 2001. Amerika menuding Al-Faruq kaki tangan jaringan bin Ladin di Asia Tenggara.  Persembunyian Umar terbongkar setelah polisi mendapat bisikan informasi dari  CIA. Al-Faruq lalu dijebloskan ke penjara Amerika Serikat di Bagram, Afghanistan. Memang, ada cerita dia berhasil kabur, dan kembali ke Irak, negara kelahirannya. Lalu, Al-Faruq diberitakan tewas dalam pertempuran di Basra, Irak Selatan, pada Oktober 2006. Sejak itu, nama intel Amerika kerap muncul dalam aksi anti teroris di nusantara. 

Tentu saja, semua dalam format kerjasama Amerika-Indonesia. *** Lalu apa tugas si ‘agen’ Marshall yang tertangkap di Bogor ini? Pemeriksaan pun dilakukan intensif oleh berbagai lembaga. Selain polisi, Marshall juga ditelisik oleh aparat Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Kementerian Luar Negeri, dan Badan Intelijen Negara (BIN). Tapi jawabannya toh sama. Kepada penyidik, Marshal menampik bahwa dirinya adalah CIA. Sayangnya, tak banyak informasi keluar dari mulutnya.  Dari Kedutaan Besar Amerika juga tak ada komentar soal ini. Sampai lelaki berhidung tinggi dengan lengkung tajam itu dipaksa pulang ke negerinya, Marshall hanya dinyatakan bersalah karena satu hal: melanggar aturan imigrasi. “Soal intelijen saya belum tahu,” kata Ito Sumardi. (Laporan: Ayatullah Humaeni (Bogor)) 

  
VIDEO: CIA Indonesia 1965 (with english subtitle)Madsen: ‘CIA involved in Jakarta bombings’CIA SPECIAL AGENT DENNIS ENDE: CIA USES PEACECORPS TO SPY ON INDONESIA

Modus Operandi CIA membunuh Hugo Chavez...


CIA 

Pasca Kematian Hugo Chavez
Jurnalis surat kabar Guardian yang juga pakar Venezuela Rory Carroll secara terang-terangan menyatakan tuduhan serius bahwa mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez Frias dibunuh oleh senjata biologi yang dibuat AS sebagaimana yang dilakukannya untuk sejumlah kasus dengan pola yang sama «para pakar teori konspirasi bertanya-tanya tentang alien di Roswell dan NASA yang memalsukan pendaratannya di bulan. Sejumlah pejabat Venezuela dan internasional percaya pihak yang memusuhi diam-diam melancarkan serangan agresif dengan menghadirkan kanker ke presiden berusia 58 tahun itu.


Carroll juga menulis bahwa Chavez sendiri percaya, kanker yang menimpa para mantan pemimpin kiri Amerika Latin, termasuk Presiden Argentina Nestor Kirchner, yang didiagnosa menderita kanker usus besar dan Presiden Brasil Ignacio Lula da Silva, yang dirawat karena kanker tenggorokan, merupakan bagian dari plot CIA yang diarahkan terhadap para pemimpin sayap kiri. Anehnya, Carroll menunjukkan bahwa mantan presiden Uruguay yang berhaluan kiri, Tabare Vazquez, ternyata sembuh dari kanker.


Bahkan, Vazquez tidak pernah menderita kanker. Selain itu, ia adalah seorang ahli onkologi terkenal yang dibina di Perancis. Adalah mantan presiden Paraguay, Fernando Lugo yang digulingkan dalam kudeta kelompok sayap kanan yang didukung CIA  pada 2012, yang didiagnosis terkena limfoma, kanker dari sistem kekebalan tubuh. Carroll hanya menyatakan bahwa karena ketiga mantan pemimpin sembuh dari kanker, maka tidak ada cerita senjata pembunuhan kanker oleh AS.


Carroll dengan mudah menghilangkan kanker yang telah melanda para pemimpin Amerika Latin lainnya, termasuk Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kirchner, yang menderita kanker tiroid, dan Presiden Brazil Dilma Rousseff, yang terserang limfoma. Setelah memulai pembicaraan damai dengan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang berhaluan kiri, Presiden konservatif Kolombia Juan Manuel Santos didiagnosa dengan kanker prostat.


Presiden sementara Venezuela Nicolas Maduro menuduh bahwa Chavez diserang dalam sebuah skenario “serangan ilmiah” yang dilancarkan oleh “musuh sejarah” Venezuela. Departemen Luar Negeri AS menyatakan pandangan itu absurd (tidak masuk akal). Pemimpin Partai Komunis Rusia Gennady Zyuganov berspekulasi bahwa ini adalah jauh dari kebetulan bahwa enam pemimpin sayap kiri semuanya terserang kanker pada  waktu yang hampir bersamaan.


Presiden Kuba Fidel Castro sendiri menjadi target upaya pembunuhan biologi oleh CIA, kata Chavez: «Chavez menuding. Orang-orang ini [Amerika] telah mengembangkan teknologi. Anda sangat ceroboh. Berhati-hatilah apa yang Anda makan, apa yang mereka berikan pada Anda untuk dimakan … jarum kecil dan mereka menyuntik Anda dengan apa yang saya sendiri tidak tahu».


Castro hampir meninggal dari sakit perut misterius dan penyakit usus dia idap setelah menghadiri sebuah paralel «People’s Summit» yang diselenggarakan bersamaan dengan Cordoba MERCOSUR pertemuan tingkat tinggi (Common Market of the South) pada Juli 2006 bersama dengan Chavez dan Nestor Kirchner.


Kabel Kedubes AS Buenos Aires tanggal 26 Juli 2006, menunjukkan ketidaksenangan Washington dengan kehadiran Castro dan Chavez di Cordoba dengan Kirchner: «Apa yang luar biasa tentang pertemuan tingkat tinggi itu adalah sejauh mana Argentina dan Brasil, dua protagonis utama dalam MERCOSUR sejak didirikan, memainkan peran sekunder di KTT ini, sementara Chavez dan Castro mendominasi».


Dari tiga peserta KTT Rakyat ini, Kirchner dan Chavez yang sekarang meninggal. Kirchner pun meninggal karena serangan jantung mendadak dan kanker agresif Chavez dimulai pada daerah pinggulnya.


Chavez mengatakan kemungkinan dari begitu banyaknya pemimpin Amerika Latin yang terkena kanker pada saat yang sama adalah «sulit untuk dijelaskan».


Jenderal Jose Ornella, kepala Pengawal Presiden Venezuela, mengatakan mungkin lima puluh tahun sebelum rincian mengenai «tangan musuh» dalam kematian Chavez diungkapkan dalam dokumen yang terdeklasifikasi.


Jenderal Ornella dan yang lainnya tidak mungkin harus menunggu lima puluh tahun untuk ‘dokumen senjata asap rokok’ di persenjataan kanker Amerika untuk diungkapkan. Catatan-catatan tersebut telah dideklasifikasi dan masih ada, meskipun banyak catatan yang dihancurkan oleh CIA di bawah sutradara Richard Helms pada awal tahun 1970an.


Meskipun Konvensi Senjata Biologi dan Toksin tahun 1972 yang diratifikasi oleh Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Britania Raya, melarang penggunaan dan kepemilikan senjata biologi, Divisi Operasi Khusus Angkatan Darat-CIA di Fort Detrick, Maryland dan Departemen Pelayanan Teknis CIA terus mempertahankan dan mengembangkan persediaan agen penyebab kanker biologi yang digunakan dalam senjata pengiriman khusus.


Agen-agen biologi dan senjata mereka secara khusus dikembangkan sebagai bagian dari proyek MKNAOMI rahasia, sebuah operasi gabungan yang dilakukan oleh CIA dan US Army Medical Research Institute for Infectious Diseases (USAMRIID) di Fort Detrick.


Tapi penggunaan agen senjata biologis penyebab kanker oleh Amerika sudah berlangsung jauh sebelum awal Perang Dingin dan korban pertama dari senjata tersebut adalah Amerika Latin. Pada tahun 1931, Dr Cornelius P. Rhoads, seorang ilmuwan Amerika kulit putih rasis dan anti Amerika Latin dengan Lembaga Rockefeller untuk Investigasi Medis di San Juan, melakukan percobaan terhadap 13 warga Puerto Rico dengan menyuntikkan agen penyebab kanker biologi ke tubuh mereka.


Pemimpin Partai Nasionalis Puerto Rico, Pedro Albizu Campos, yang juga dikenal sebagai «El Maestro,» memperoleh surat dari Rhoads untuk seorang teman dimana Rhoads menulis tentang Puerto Rico:


«Saya bisa mendapatkan pekerjaan baik yang terkutuk sini dan saya tergoda untuk mengambilnya. Ini akan menjadi ideal kecuali untuk orang-orang Porto [sic] Rico. Mereka adalah orang-orang kotor, pemalas, ras manusia yang paling rendah dan  punya kebiasaan mencuri yang pernah menghuni bumi ini. Itu membuat Anda sakit menghuni pulau yang sama dengan mereka. Mereka bahkan lebih rendah dari orang-orang Italia.


Apa yang dibutuhkan pulau itu bukanlah kerja kesehatan publik tetapi gelombang pasang atau sesuatu untuk benar-benar membasmi penduduk. Kemudian mungkin ditinggali. Saya telah melakukan yang terbaik untuk memajukan proses pemusnahan dengan membunuh 8 dan tanam kanker ke banyak lagi yang lain. Yang terakhir ini tidak menghasilkan malapetaka apa pun sejauh ini. . . Masalah pertimbangan untuk kesejahteraan pasien ‘tidak memainkan peranan di sini – pada kenyataannya semua dokter bersenang-senang dalam penyalahgunaan dan penyiksaan terhadap subyek-subyek yang malang ».


Albizu mengeluhkan peristiwa tragis itu ke Liga Bangsa-Bangsa tetapi sia-sia. Pada tahun 1950, Albizu justru ditangkap dalam suatu upaya penindakan tegas terhadap aksi nasionalis  Puerto Rico di pulau itu dan Albizu menjadi sasaran luka bakar radiasi dan keracunan.



Kepala NSA Sebut CIA ‘Diluar Kontrol’
Ada sedikit keraguan bahwa Rhoads, yang mengarahkan program senjata kimia dan biologi  Angkatan Darat di Fort Detrick, the Dugway Proving Ground and Deseret Test Center in Utah, dan Panama Canal Zone, menjadikan Albizu untuk eksperimentasi balas dendam. Rhoads kemudian pergi ke staf Komisi Energi Atom, yang juga menjadikan warga Amerika untuk tes radiasi berbahaya.


Albizu menderita stroke di penjara pada tahun 1956. Pada tahun 1964, ia diampuni namun meninggal tak lama setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1965. The Guardian, Departemen Luar Negeri AS, dan Pentagon dapat terus-menerus menceritakan pada semua yang mereka inginkan tentang tuduhan-tuduhan «yang tak masuk akal» dan «teori konspirasi» tapi itu adalah fakta bahwa pemimpin nasionalis Puerto Rico dibunuh oleh AS dalam percobaan medis brutal ketika ia di penjara. Dan jika itu adalah apa yang AS bersedia lakukan untuk warga negaranya sendiri, musuh asing seperti apa yang menjadi sasaran AS?


MKNAOMI merencanakan untuk membunuh Fidel Castro dan Perdana Menteri Kongo Patrice Lumumba dengan senjata biologi yang «eksotis». Pekerjaan pada senjata tersebut dilakukan oleh Kepala Layanan Teknis CIA Dr Sidney Gottlieb. program senjata biologi yang berafiliasi dengan CIA dan Angkatan Darat AS lainnya memiliki nama kode DORK dan OFTEN / CHICKWIT.


The National Cancer Institute, ketika mencari obat untuk kanker, berputar dari proyek badan intelijen di bawah Proyek Kanker Viral yang meneliti aplikasi militer untuk agen biologi penyebab kanker.


Pekerjaan tersebut dipusatkan di Fort Detrick dan, setelah Konvensi Senjata Biologi 1972 ditandatangani oleh Presiden Richard Nixon, pekerjaan rahasia «produksi skala besar virus onkogenik dan dicurigai onkogenik» dilanjutkan dengan hasil bersih sehingga pada tahun 1977 berhasil memproduksi 60.000 liter virus onkogenik dan imunosupresif.


Pada tahun 1970, Wakil Direktur CIA untuk Rencana, Thomas Karamessines, merekomendasikan bahwa jika Konvensi Perang Biologi yang diusulkan itu  disahkan, persediaan agen senjata biologi CIA harus ditransfer dari Detrick ke Pusat Penelitian Huntingdon Perusahaan Becton-Dickinson, di Baltimore.


Program rahasia CIA dan Pentagon di Fort Detrick termasuk dalam penyediaan  toksin botulinum, yang dapat menyebabkan keracunan makanan yang mematikan. Penelitian lain termasuk transmisi aerosol dari virus penyebab kanker dan produksi virus  «spesies melompat» yang mana virus itu bisa berpindah dari spesies hewan ke manusia yang menyebabkan kanker.


Salah satu korban senjata kanker pertama dari operasi pembunuhan biologi CIA mingkin presiden pertama Angola, Agostinho Neto.


Neto, yang ditargetkan oleh CIA yang melanggar larangan kongres, dengan cepat terkena kanker pada tahun 1979 dan meninggal di sebuah rumah sakit Moskow sebelum usia 57. Korban CIA lainnya mungkin mantan Presiden Cile Eduardo Frei, yang menjadi musuh vokal diktator Jenderal Augusto Pinochet yang didukung CIA . Frei meninggal di sebuah rumah sakit Santiago pada 22 Januari 1982 setelah tertular infeksi yang mencurigakan setelah operasi rutin.


CIA mempelopori dalam penggunaan agen penyebab kanker yang bisa menginfeksi korbannya melalui suntikan, inhalasi, kontak kulit melalui pakaian yang terkontaminasi, terutama pakaian dalam- Formasi agresif  Chavez di daerah pinggulnya erat kaitannya dalam hal ini, dan kontak dengan sistem pencernaan melalui penggunaan makanan, minuman, dan bahkan pasta gigi yang terkontaminasi.


Ada semacam kekayaan dokumentasi pada penggunaan senjata kanker oleh CIA dalam melawan musuh-musuhnya bahwa keberadaan senjata tersebut tidak menjadi masalah. Satu-satunya masalah adalah bagaimana Venezuela dan negara-negara korban lainnya mengetahui agen penyebab kanker yang lancarkan dan identitas para pembunuh dan calon pembunuh …



Sumber : The Global Review

Teori konspirasi yang terbukti benar....


Di dalam setiap situasi bencana, selalu ada sekelompok orang yang mengeluarkan teori konspirasi. Mulai dari pembunuhan Kennedy hingga Pemboman di Boston. Kebanyakan dari teori tersebut tidak berdasar dan terdengar gila. Namun kadang hal yang paling gila pun ternyata merupakan sebuah kebenaran yang tidak dapat disangkal. Berikut adalah 5 teori konspirasi yang belakangan ternyata benar-benar ada.

Dunia konspirasi sama seperti cryptozoology. Bagi kebanyakan orang, mempercayai keberadaan Nessie atau Bigfoot akan dianggap sebagai sebuah kegilaan. Tidak ada bukti ilmiah keberadaan makhluk ini. Semua isu yang beredar hanya didasarkan pada kesaksian dan foto-foto yang buram.

Namun kebanyakan orang lupa kalau Panda dan Komodo pernah masuk ke dalam kategori cryptid. Ketika keberadaan kedua hewan tersebut dikenal luas, keberadaan Panda dan Komodo menjadi hal yang biasa. Begitu pula dengan teori konspirasi.

Beberapa teori konspirasi akan terdengar sangat tidak masuk akal. Misalnya, kepercayaan kalau sesungguhnya para politisi ternama di dunia ini adalah kaum alien reptilian yang sedang menyamar. How cool is that?

Kali ini kita tidak akan memeriksa teori mengenai reptilian yang menguasai bumi. Kita akan melihat teori konspirasi lain yang walaupun terdengar cukup gila, namun di kemudian hari terbukti merupakan sebuah kebenaran.
MK Ultra
Pada pertengahan tahun 1900an, beredar isu kalau pemerintah Amerika Serikat, dalam hal ini CIA, telah melakukan eksperimen pengendalian pikiran yang dilakukan melalui obat-obatan seperti LSD. Mereka yang mengajukan teori ini akan ditertawakan dan dianggap sebagai seorang Paranoid. Pemerintah Amerika juga tidak mengakuinya dan menganggap isu tersebut sebagai sebuah rumor yang tidak berdasar.

Namun pada tahun 1975, kongres Amerika Serikat mulai membentuk komite untuk menyelidiki aktivitas CIA di dalam negeri. Komite yang disebut Church Committe ini menemukan fakta tentang MK Ultra. CIA memang melakukan eksperimen pengendalian pikiran atau "Rekayasa Perilaku Manusia" lewat divisi Scientific Intelligent milik CIA.



Program ini dimulai tahun 1950an hingga dihentikan pada tahun 1973. Penyelidikan ini juga menemukan kalau ketua CIA saat itu, Richard Helms, telah memerintahkan pemusnahan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan MK Ultra pada tahun itu.

Lewat undang-undang kebebasan informasi, CIA mulai melepaskan dokumen-dokumen yang tersisa ke publik hingga pada tahun 2001 MK Ultra sudah tidak dianggap sebagai proyek rahasia lagi.
Kesaksian Nayirah
Pada tahun 1990, terjadi konflik di Timur Tengah ketika Irak menginvasi Kuwait yang kaya akan minyak. Saddam Hussein menuduh Kuwait mencuri sumber minyak tersebut. Tentu saja Kuwait menolak tuduhan tersebut.

Karena Irak memiliki militer yang jauh lebih kuat, maka Kuwait yang merupakan sebuah negara kecil namun memiliki kekayaan yang luar biasa, segera meminta bantuan kepada Amerika Serikat. Untuk meyakinkan pemerintah Amerika, anggota kongres dari California bernama Tom Lantos membawa seorang anak kecil berusia 15 tahun untuk berbicara di hadapan koleganya di Capitol Hill. Tom Lantos merupakan ketua dari kaukus hak asasi manusia di kongres.

Pada tanggal 10 Oktober 1990, mata dunia tertuju kepada Nayirah dan dengan seksama mendengarkan bagaimana ia menceritakan kekejaman pasukan Irak, termasuk ketika mereka membunuh 300 bayi di sebuah rumah sakit.

Ketika perang berakhir, ada orang-orang yang tertarik dengan sosok Nayirah. Mereka menemukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Nayirah ternyata anak dari Sheikh Saud Nasser Al Saud Al Sabah, duta besar Kuwait untuk Amerika Serikat yang juga merupakan anggota keluarga kerajaan.

Jadi desas-desus dan berbagai tuduhan konspirasi mulai muncul. Belakangan diketahui kalau Tom Lantos bekerjasama dengan sebuah firma public relation, Hill & Knowlton, yang juga bekerja untuk organisasi Citizens for free Kuwait. 

Nayirah bahkan belajar akting dari lembaga tersebut dan kesaksiannya mengenai pembunuhan 300 bayi ternyata tidak terbukti. Konon keluarga kerajaan Kuwait membayar lembaga itu senilai 11,9 juta dolar. Tujuannya satu, yaitu untuk meyakinkan Pemerintah dan Kongres Amerika Serikat supaya mau mengambil tindakan militer terhadap Irak. 
Eksperimen dengan substansi kimia dan biologi
Teori ini menyebutkan kalau pemerintah Amerika Serikat berusaha melakukan upaya kontrol populasi melalui racun yang disebarkan melalui agent/substansi kimiawi berbahaya. Apakah kepercayaan ini hanya bermula dari rasa paranoid yang mendalam atau memang memiliki dasar yang cukup kuat?

Well, sepertinya para penganut teori konspirasi ini ada benarnya juga. Sekarang sudah merupakan pengetahuan lazim yang juga sudah diakui oleh pemerintah Amerika sendiri kalau pada masa lampau mereka memang melakukan eksperimen semacam itu. Catatan militer Amerika Serikat menunjukkan kalau mereka pernah melakukan eksperimen menggunakan substansi biologi terhadap warga sipil. Bahkan dilakukan hingga 239 kali!
Diantara eksperimen tersebut adalah penyemprotan yang dilakukan pada tahun 1966 di stasiun bawah tanah New York dengan substansi sejenis Anthrax! 

Selain itu, pada tahun 1950, pemerintah Amerika juga melakukan penyemprotan awan bakteri di teluk San Fransisco. Awan ini disebut pemerintah sebagai agent biologi yang tidak berbahaya. Namun setelah itu, dilaporkan kalau ada 11 orang yang masuk rumah sakit dengan infeksi urinal yang langka. Paling tidak satu orang dilaporkan meninggal. 

Belakangan, diketahui kalau bakteri tersebut memang tidak berbahaya bagi orang sehat, namun dapat membawa dampak buruk bagi mereka yang memiliki tubuh yang lemah. 
Pada tahun 2012, seorang peneliti bernama Lisa Martino Taylor berhasil mengumpulkan data yang membuktikan kalau ilmuwan militer telah menyemprotkan partikel radioaktif di St.Louis, Missouri, yang disebut bertujuan untuk menguji teknologi senjata kimia. Penyemprotan ini dilakukan antara tahun 1950an hingga 1960an.

Sekarang, setelah peristiwa eksperimen di masa lampau ini, para penganut teori konspirasi percaya kalau pemerintah masih melakukan penyemprotan secara diam-diam. Salah satu bukti yang diajukan adalah chemtrail. Dalam versi teori yang lain, kontrol populasi ini dipercaya dilakukan lewat substansi lain seperti Flouride. 

Apakah chemtrail atau Flouride merupakan bagian dari eksperimen pemerintah yang berbahaya? Waktu yang akan mengungkapkannya.
Operation Mockingbird
Setiap aspek kehidupan kita dibentuk oleh informasi yang kita terima. Namun, bagaimana jika arus informasi dikendalikan oleh pemerintah?

Para penganut teori konspirasi memiliki satu kecenderungan. Mereka tidak mempercayai media mainstream. Mereka berargumen kalau media-media utama telah dikuasai oleh pemerintah yang mencoba untuk mengatur arus informasi. Buktinya adalah keengganan media utama untuk memberitakan masalah teori konspirasi.

 Dalam banyak kasus, hal ini boleh dibilang benar. Pemerintah memiliki kepentingan dan punya kuasa untuk mengambil tindakan apa saja untuk melindungi keamanan nasional atau orang-orang tertentu.

Misalnya, ketika putri Obama, Malia, pergi berlibur ke Mexico, beberapa media memberitakan kunjungan itu. Namun keesokan harinya, berita tersebut lenyap begitu saja dari internet. Belakangan, Secret Service mengakui kalau mereka telah meminta media untuk mencabut berita itu demi keselamatan Malia.

Pada masa berakhirnya perang dunia II, sekitar permulaan tahun 1948, seorang agen CIA bernama Frank Wisner diberi kepercayaan untuk mengurus salah satu cabang CIA yang bernama Office of Policy Coordination. Dalam implementasi wewenangnya, Wisner memulai Operation Mockingbird yang tujuan utamanya adalah menginfiltrasi media-media utama di Amerika Serikat.

Pada pertengahan tahun 1950an, CIA sudah menjalin kerjasama dengan 400 jurnalis dari media-media utama di seluruh Amerika. Dengan operasi ini, pemerintah bisa dengan mudah mengatur arus informasi sehingga mengarah ke kondisi yang diinginkan.

Pada pertengahan tahun 1970an, Operation Mockingbird tersingkap dan dibubarkan. Entah apa dampak dari operasi tersebut dan informasi macam apa yang telah dikendalikan oleh Pemerintah. 

Namun pertanyaannya adalah, apakah operasi itu benar-benar telah dihentikan? Siapa yang bisa memastikannya?
Iron Mountain
Pada tahun 1967, terbit sebuah buku yang ditulis oleh orang tidak dikenal. Buku itu menceritakan mengenai sebuah panel pemerintah yang dibentuk pada tahun 1963 dan terdiri dari 15 anggota yang disebut special study group.

Panel ini mempunyai satu tugas, yaitu memikirkan dampak yang akan timbul jika Amerika Serikat memasuki masa damai yang berkepanjangan. Mereka mengadakan pertemuan secara teratur di sebuah bunker nuklir yang disebut Iron Mountain.

Selama dua tahun berikutnya Panel ini berusaha merumuskan pandangan mereka hingga akhirnya mengambil kesimpulan-kesimpulan yang kontroversial. Salah seorang anggota dari panel tersebut adalah seorang profesor yang kemudian memutuskan untuk membocorkannya ke publik lewat buku yang ditulisnya.

Salah satu kesimpulannya adalah, bahkan jika damai berkepanjangan dapat dicapai, bisa dipastikan kalau situasi itu bukanlah kondisi ideal yang dibutuhkan masyarakat. Perang adalah bagian dari ekonomi. Karena itu diperlukan sebuah kondisi perang untuk mencapai kestabilan ekonomi.

Menurut panel itu, sebuah pemerintahan tidak akan ada tanpa perang dan sebuah pemerintahan harus memanfaatkan perang sebagai sarana untuk mencapai situasi ekonomi politik yang mendukung.


Panel ini juga merekomendasikan pemerintah untuk mencari musuh alternatif dan menciptakan kepanikan masyarakat dengan Laporan-laporan penampakan alien atau polusi yang tidak terkendali. 


Pada tanggal 20 November 1967, US News and World melaporkan kalau rumor mengenai Panel ini memiliki dasar dan mereka mendapatkan konfirmasinya dari seorang sumber di dalam pemerintahan. Sumber itu juga mengatakan ketika presiden Johnson membaca rekomendasi Panel Iron Mountain, ia memerintahkan stafnya untuk mengabaikannya. Pesan kawat segera dikirim ke duta-duta besar di berbagai negara dan meminta mereka untuk tidak mengaitkan rekomendasi panel ini dengan pemerintah Amerika Serikat.
Tapi benarkah rekomendasi ini telah diabaikan? Bagaimana cara kita memastikannya?
Saya akui, kadang penganut teori konspirasi menarik teori mereka terlalu jauh sehingga terdengar seperti sebuah gurauan.
David Icke misalnya. Ia adalah salah seorang penganut teori konspirasi yang paling ternama di Inggris. Ia pernah mengatakan kalau sesungguhnya saat ini kita sedang hidup di dalam sebuah... Matrix. Ini berarti apa yang sedang kita jalani sekarang hanyalah sebuah ilusi. Dia juga percaya kalau mayoritas politisi Amerika Serikat adalah ras Alien Reptilian yang menyamar.

Tokoh lain yang menarik adalah Alex Jones yang menjalankan situs Infowars.com. Jika Icke terkenal di Inggris, Jones terkenal di Amerika Serikat. Pria satu ini terdengar lebih masuk akal dibanding Icke. Ia percaya kalau peristiwa 911 dan pemboman marathon Boston adalah perbuatan pemerintah Amerika Serikat sendiri. Akhir-akhir ini kita bisa membaca berita di Indonesia yang mengutip Jones dalam kaitannya dengan Bom Boston.


Alex Jones

Tapi, inilah yang saya suka dari penganut teori konspirasi. Tidak ada kebenaran. Yang ada hanyalah sebuah Cover Up. Misalnya, Alex Jones percaya kalau Iluminati telah menguasai politik Amerika dengan satu tujuan, yaitu untuk menguasai dunia.

Lalu, datanglah penganut teori konspirasi yang lain. Lorie Kramer namanya. Kramer dengan lantang mengatakan kalau Alex Jones sebenarnya adalah rekrutan New World Order untuk mengalihkan perhatian publik Amerika. Tentu saja ini merupakan tamparan bagi Jones yang menganggap dirinya tokoh terdepan dalam perlawanan terhadap New World Order.

Belum cukup serangan yang dilancarkan Kramer, pasangan Gary dan Lisa Ruby mengklaim kalau Jones adalah rekrutan gereja scientology untuk menguasai dunia dan menghancurkan kekristenan.

Lalu siapakah yang ingin kalian percayai? Jika kita bisa mempercayai Jones tanpa menuntut bukti, bukankah kita seharusnya juga bisa mempercayai Kramer dan Ruby tanpa menuntut bukti?

Jika saya adalah penganut teori konspirasi, maka saya akan menuduh Kramer dan Ruby sebagai rekrutan New World Order untuk mendiskreditkan Jones yang merupakan musuh utama New World Order.

Namun, setelah saya melancarkan tuduhan itu, bisa saja kalian balik menuduh saya sebagai antek New World Order yang bertujuan untuk mendiskreditkan Kramer dan Ruby yang bersuara lantang mengungkap kebohongan Jones. Dan seterusnya... dan seterusnya..

Demikianlah lingkaran pemikiran teori konspirasi yang tidak putus-putusnya. Membingungkan bukan?

Tapi mari kita lanjutkan dan tidak berkutat pada lingkaran pemikiran tersebut. 

Sebelum saya akhiri tulisan ini, ada yang ingin saya tanyakan kepada kalian.

Ingatkah kalian dengan Roswell? Pada tahun 1947, sebuah pesawat alien dan mayat pilotnya dipercaya jatuh di Roswell, New Mexico. Walaupun disebut terjadi pada tahun 1947, kisah Roswell ini baru terungkap pada tahun 1978 oleh peneliti UFO Stanton T Friedman.

Ingat Panel Iron Mountain yang dibentuk tahun 1963 yang saya singgung di atas?

Panel ini merekomendasikan pemerintah Amerika Serikat untuk menciptakan musuh alternatif dan menciptakan kepanikan masyarakat lewat laporan-laporan mengenai UFO dan Alien.

Nah, pertanyaan saya adalah, apakah kisah Roswell yang muncul ke permukaan pada tahun 1978 merupakan bagian dari implementasi panel Iron Mountain?

Kemudian apakah kasus penampakan UFO yang semakin intens dekade belakangan ini juga merupakan bagian dari implementasi tersebut? 

Lalu, apakah rekomendasi panel Iron Mountain benar-benar diabaikan pemerintah Amerika Serikat? 

Bukankah kita hanya mengetahui kalau Presiden Johnson mengabaikannya lewat seorang sumber? 

Bagaimana jika sumber tersebut ternyata merupakan bagian dari konspirasi untuk menutupi fakta? 

Atau bagaimana jika US News and World yang melaporkan soal sumber tersebut ternyata merupakan bagian dari Operation Mockingbird yang ternyata masih dijalankan?