Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

Rabu, 13 April 2011

Inilah Napak Tilas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang? Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. Lima buku pertama: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch.




Selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, oleh karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi Musa dan sepanjang Alkitab ada referensi kepada “Hukum Nabi Musa”. Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi tidak disangkal bahwa nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab ini. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.


Nabi Musa menaruh satu set kitab di dalam Tabut Perjanjian (The Ark of The Covenant) kira-kira 3300 tahun yang lalu. Lama kemudian Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan kepada Kitab Taurat dan membentuk Kitab-kitab Perjanjian Lama. Kapan tepatnya isi dari Kitab-kitab Perjanjian Lama ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui secara pasti. Yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah ada seperti umat Katolik mengenalnya sekarang.


Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 – 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi – menurut tradisi – 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 – 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi diaspora (=terbuang), yang tinggal di wilayah Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.


Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap umat Kristen. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon (=standard) Kitab Suci mereka: [1] Ditulis dalam bahasa Ibrani; [2] Sesuai dengan Kitab Taurat; [3] lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM); [4] dan ditulis di Palestina. Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.

Gereja Kristen tidak menerima hasil keputusan rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Bapa Gereja perdana (Church Fathers) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Bapa-bapa Gereja, beberapa diantaranya disebutkan disini: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus adalah para pemimpin spiritual umat Kristen yang hidup pada abad-abad pertama dan tulisan-tulisan mereka – meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru – menjadi bagian dari Deposit Iman. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika (second-listed), atau kanon kedua. Disebut demikian karena disertakan dalam kanon Kitab Suci setelah melalui banyak perdebatan.

Sejarah Yang Akan Mencatat Kebaikan Dan Kelemahan Pak Harto




Mantan Presiden RI, HM Soeharto (Pak Harto) telah meninggal dunia dalam perawatan di RS Pusat Pertamin (RSPP), Minggu [27/01] , pkl. 13.10 WIB, di tengah berbagai kontroversi atas persoalan hukum, HAM, maupun perkara perdata yang masih membelitnya, namun betapapun Pak Harto adalah salah satu pemimpin nasional yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Betapapun juga Pak Harto adalah pemimpin nasional yang kita miliki, sehingga biarlah sejarah yang akan mencatat kebaikan dan kelemahannya sebagai manusia biasa,” kata pengamat hukum dari Universitas Lampung (Unila), Wahyu Sasongko SH MH, di Bandarlampung, Minggu siang.

Menurut Wahyu, kepergian Pak Harto sepantasnya tetap disambut dengan duka cita yang mendalam oleh seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. “Sejarah yang akan bicara secara jujur terhadap semua yang telah diperjuangkan dan dilakukan Pak Harto, termasuk segala masalah dan kelemahan yang menyertai saat memimpin bangsa ini,” ujar kandidat doktor ilmu hukum di UI Jakarta itu pula.

Wahyu berpendapat, tuntutan hukum pidana yang saat ini masih dikaitkan dengan Pak Harto, secara otomatis berhenti dan tidak dapat diproses hukum lebih lanjut, menyusul meninggalnya Pak Harto. “Siapapun juga, termasuk Pak Harto, setelah meninggal dunia, kasus hukum yang terkait dengan seseorang itu akan berhenti dan tidak dapat dilanjutkan lagi kalau yang bersangkutan meninggal dunia,” kata Wahyu lagi.

Namun begitu, menurut dia, untuk kasus perdata yang masih membelit mantan Presiden RI itu, masih dapat berlanjut proses hukumnya sepanjang masih ada ahli warisnya. “Kalau kasus pidana maupun HAM tidak lagi dapat diproses hukum setelah Pak Harto meninggal dunia, tapi kasus perdatanya masih dapat berlanjut karena masih ada ahli warisnya,” demikian Wahyu Sasongko. 

Bagaimana Cara Reaktor Nuklir Bekerja?

Reak tor nuk lir mem pro duk si dan me ngen da li kan pe le pas an ener gi da ri pe me cah an atom be be ra pa un sur se per ti ura ni um dan plu to nium. Da lam re ak tor Pem bang kit Lis trik Te na ga Nuk lir (PLTN), ener gi di le pas kan da ri re ak si fi si (pe me cah an) ber an tai atom ba han ba kar dan pa nas yang di ha sil kan di pa kai un tuk mem pro duk si uap. 

Uap ini lah yang di gu na kan un tuk meng ge rak kan tur bin un tuk mem pro duk si lis trik. Je nis pem bang kit lain nya ju ga meng gu na kan uap, na mun PLTN ti dak me la ku kan pem ba kar an ba han ba kar fo sil yang bi sa me le pas kan emi si gas ru mah ka ca.

http://www.okejuga.com/wp-content/uploads/2011/02/reaktor-nuklir.png
Bagian-bagian reaktor nuklir

Ada bebe ra pa kom po nen yang umum di pa kai oleh ba nyak re ak tor se per ti di ri lis world-nu cle ar.org.

Ba han ba kar

Bia sa nya ba han ba kar be ru pa bu tir ura ni um ok si da (UO2) yang da lam ta bung se hing ga ter ben tuk ba tang ba han ba kar. Ba tang ini di atur se de mi ki an ru pa di da lam in ti re ak tor.

Mo de ra tor

Ma te ri al ini mem per lam bat pe le pas an net ron fi si yang me nye bab kan le bih ba nyak re ak si fi si. Bia sa nya yang di pa kai ada lah air, na mun bi sa ju ga air be rat atau gra fit.

Tang kai ken da li

Ba gi an ini di buat da ri ma te ri al yang me nye rap net ron, se per ti cad mi um, haf ni um atau bo ron. Ma te ri al ini bi sa di ma suk kan atau ter le pas da ri in ti un tuk me ngon trol ke ce pat an re ak si hing ga meng hen ti kan re ak si. Se lain itu ada sis tem pe ma dam an ke dua de ngan me nam bah kan pe nye rap net ron yang lain, bia sa nya ter da pat da lam sis tem pen di ngin uta ma.

Pen di ngin

Be ru pa ca ir an atau gas yang meng alir se pan jang in ti re ak tor dan me min dah kan pa nas da ri da lam ke lu ar. Da lam re ak tor yang me ma kai air bia sa, fung si mo de ra tor bia sa nya me rang kap se ba gai pen di ngin.

Be ja na ber te kan an

Bia sa nya be ru pa be ja na ba ja ku at dan di da lam nya ada in ti re ak tor dan mo de ra tor/pen di ngin. Na mun bi sa ju ga be ru pa se rang kai an ta bung yang me nam pung ba han ba kar dan me nya lur kan ca ir an pen di ngin ke se pan jang mo de ra tor.

Ge ne ra tor uap

Ini ada lah ba gi an da ri sis tem pen di ngin an di ma na pa nas da ri re ak tor di gu na kan un tuk mem bu at uap da ri tur bin.

Con tain ment (pe na han)

Ya i tu struk tur di se ki tar in ti re ak tor yang di ran cang un tuk me lin dungi nya da ri gang gu an lu ar dan me lin dungi ba gi an lu ar da ri efek ra dia si ji ka ada ke sa lah an. Ba gi an ini di buat da ri struk tur be ton dan ba ja de ngan te bal men ca pai 1 m.

Ke ba nyak an re ak tor per lu di ma ti kan sa at peng isi an ba han ba kar. Da lam hal ini peng isi an ba han ba kar di la ku kan pa da in ter val 1-2 ta hun dan se pe rem pat atau ti ga pe rem pat pa sang ba han ba kar di gan ti de ngan yang ba ru. Pa da ti pe CAN DU dan RBMK yang me mi liki ta bung ber te kan an (bu kan be ja na te kan yang me nu tup in ti re ak tor), peng isi an ulang ba han ba kar bi sa di la­ku kan sa at ge ne ra tor be ker ja de ngan me mu tus ta bung ber te kan an itu.

Pa da re ak tor de ngan mo de ra tor air be rat atau gra fit, re ak tor bi sa be ker ja se per ti bia sa bah kan sa at pe nga ya an ura ni um. Ura ni um alam ma sih me mi liki kom po si si yang sa ma de ngan sa at di tam bang (me mi liki 0,7% iso top U-235 dan 99,2% U-238). Ura ni um ini me mi liki iso top U-235 yang cen de rung te rus mem be lah.

Iso top ini ke mu di an di ka ya kan hing ga 3,5-5%. Pa da pro ses pe nga ya an se per ti ini mo de ra tor bi sa be ru pa air bia sa dan di se but de ngan re ak tor air ri ngan. Air ini bi sa me nye rap net ron de ngan ba ik, na mun tak se efek tif meng gu na kan air be rat atau gra fit. Da lam ber ba gai ka sus yang lang ka, ba ngun an in ti re ak tor bi sa ru sak se hing ga me nye bab kan ma sa lah pa da sis tem pen­di ngin an atau mo de ra tor. Aki bat nya, re ak si fi si yang ter ja di bi sa tak ter ken da li dan me nye bab kan le dak an atau ter se bar nya asap ra dio ak tif ke ma na-ma na.